THE DESIGN WEB

Seputar berita tentang liputan nusantara

Berita

OVO Perangi Judi Online, Sinergi dengan Pemerintah dan Swasta

thedesignweb.co.id, Jakarta PT Visionet Interasional (OVO) telah berkolaborasi dengan Pusat Referensi Perdagangan dan Analisis Perdagangan Keuangan (PPATK) yang mengorganisir seminar nasional yang berjudul “Perjuangan Online dan Kejahatan Baru Ekonomi Digital 5.0”.

Kegiatan ini dilakukan di Jakarta dengan peserta dalam perwakilan sektor keuangan dan Institusi Pengawasan dan Pengatur (LPP).

Pidato kehormatan juga disajikan selama acara tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, Plt. Wakil Keamanan dan Ketertiban Umum, Mengkoordinasikan Kementerian Politik (Kemenko Polkam), Jenderal Asep Jenal Ahmadi, Brigade Umum.

Direktur OVO, Karaniya Dharmasaputra, mengatakan partainya serius untuk menghilangkan permainan online di Indonesia.

“OVO mendukung dan berkolaborasi dengan pemerintah dan regulator, terutama PPATK, Komdigi, BI dan OJK, dalam perjuangan melawan game online. Hari ini, kami memulai Judol Gebuk (gerakan bersama -sama mengungkapkan permainan online) Optimalisasi teknologi untuk patroli dunia maya, pencegahan dan pencegahan dan Game The Game Online) Deteksi game game, termasuk pengecualian akun yang dikonfirmasi terkait dengan game online, “Karaniya mengatakan kepada acara tersebut, Jumat (12/22/2024).

Kepala ppatk Ivan Yustiavandana mengatakan seminar nasional ini adalah seri nasional 22 tahun, pencegahan pendanaan terorisme dan pencegahan perkalian perkalian massal bencana (APUPPT dan PPPSPM).

“Peristiwa yang terjadi hari ini transaksi yang digunakan untuk bermain game online menjadi lebih kecil dan jumlah pemain meningkat sehingga akumulasi transaksi dalam permainan online yang beredar meningkat,” katanya.

Ivan mengatakan Jawa Barat saat ini adalah provinsi yang mendominasi omset game online. Game online adalah masalah serius yang dihadapi Indonesia.

Tidak hanya itu tindakan kriminal juga tindakan online, game online juga memiliki dampak negatif pada stabilitas ekonomi negara dan komunitas sosial.

 

Berdasarkan data PPATK pada tahun 2023, kecepatan uang yang terhubung ke game online kesempatan mencapai RP327 miliar. Sementara pada tahun 2024 pada kuartal pertama, omset mencapai 10 miliar rps.

Hal yang paling mengkhawatirkan adalah hingga 197.540 anak -anak dengan usia 11 hingga 19 tahun terlibat secara acak secara acak dengan nilai transaksi 293,4 miliar rp.

Untuk mengatasi masalah permainan yang semakin menjengkelkan di internet, pemerintah telah melatih kelompok kerja dalam permainan online melalui keputusan presiden Republik Indonesia. 21/2024 tentang penghapusan kelompok kerja (kelompok kerja) dari game online secara acak.

Pelatihan kelompok kerja ini bertujuan untuk mempercepat dengan mantap dan mengintegrasikan penghapusan game online.

Kelompok kerja untuk menghilangkan kegiatan keuangan ilegal (beberapa kelompok kerja), termasuk berbagai bagian, seperti Kementerian Politik dan Keselamatan (Kemenpolkam), Bank Indonesia (BI) dan Layanan Penegakan Hukum Otoritas Layanan Keuangan (OJK).

Kelompok kerja harus dikecualikan hingga 9.062 entitas ilegal dari 2017 hingga 2024.

 

PLT Wakil Keamanan dan Ketertiban Umum, koordinasi Kementerian Politik dan Keamanan Umum ASEP Jaenal Ahmadi, mengatakan bahwa penghapusan permainan online adalah salah satu program prioritas Presiden Prabowo Suubianto dan Kementerian Koordinasi Kebijakan dan Keamanan yang dikelola itu serius.

“Mengelola game online harus bekerja di lantai atas dan hilir, termasuk pencarian aliran modal untuk mengungkapkan manfaat dari manfaat jaringan game,” kata ASEP.

Menteri Komunikasi dan Digital, kata Meutya Hafid, Komdigi terus berjanji untuk menciptakan ruang digital yang sehat bagi masyarakat.

“Komdigi bekerja dan bekerja dengan sektor lintas negara, seperti pemerintah dan pihak swasta untuk memerangi permainan online,” kata Meutya.

Sampai sekarang, Komdigi telah mencegah akses ke 5,1 juta situs perjudian online di masyarakat.

“Memblokir situs -situs ini adalah salah satu dari mereka yang menggunakan Teknologi Kecerdasan Buatan (AI),” kata Meutya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *